FILSAFAT PENDIDIKAN DALAM RANAH SQ

Posted: January 18, 2011 in Uncategorized

KATA PENGANTAR

Tujuan ontologi pendidikan dalam hal ini adalah untuk mengatur, menyelaraskan, dan memadukan proses pendidikan serta memecahkan persoalan pendidikan secara praktis. Dalam hubungannya dengan pengembangan kecerdasan spiritual berarti bagaimana tujuan itu dapat diraih secara kaffah atau hakiki dengan mengedepankan kecerdasan spiritual dalam hubungannya dengan asal-mula, eksistensi, dan tujuan kehidupan manusia.
Pengembangan kecerdasan spiritual dalam ontologi pendidikan adalah untuk menumbuhkembangkan potensi yang terkandung didalam diri manusia secara berkelanjutan dan untuk meraih sasaran yang ingin dicapai.
Pertama, hubungan antara pendidikan dan manusia, untuk mendapatkan pengetahuan keniscayaan keberadaan pendidikan dalam setiap sisi kehidupan manusia. Seperti potensi kreatif dan dinamis khas manusia yaitu cipta, rasa, dan karsa tiga moral spiritualnya adalah Syukur, sabar dan ikhlas.
Kedua, tentang hubungan pendidikan dan filsafat antara lain untuk mendapatkan pengetahuan yang jelas bahwa antara keduanya menuju pada satu titik puncak yaitu, kearifan hidup. Seperti sikap bagaimana menyikapi segala pluralitas agar tidak terjadi benturan antara yang satu dengan yang lainnya.
Ketiga, tentang hubungan pendidikan dan sejarah, yang dilanjutkan dengan hubungan pendidikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk mendapatkan pengetahuan bahwa pendidikan adalah sistem kegiatan menuju perubahan untuk kemajuan hidup. Dan terakhir ialah paradigma ontologi pendidikan agar mendapatkan pengetahuan tentang hakikat keberadaan pendidikan dari tingkat abstrak sampai pada tingkat konkret.

DAFTAR ISI
Kata Pengantar 1
BAB I PENDAHULUAN 4
1.1. Latar Belakang 4
1.1.1. Ontology 4
1.1.2. Perkembangan Kecerdasan Spiritual (Sq) 4
1.2. Identifikasi, Batasan Dan Rumusan Masalah 6
1.3. Tujuan 7
1.4. Kegunaan 8
1.5. Sistematika Penulisan 8
A. Bagian Pembuka 8
B. Bagian Isi 9
C. Bagian Penunjang Penutup 9
BAB II PEMBAHASAN 10
2.1. Hakikat Manusia Dan Persoalan Pendidikan 10
2.1.1. Hakikat Manusia 10
2.1.2. Filosofi Kehidupan 12
2.1.3. Manusia Dan Problematika Pendidikan 13
2.2. Pendidikan Dan Kehidupan Manusia 14
2.2.1. Pendidikan Dan Manusia 14
2.2.2 Pendidikan Dan Filsafat 21
2.2.3. Pendidikan Dan Sejarah 23
2.2.4 Pendidikan Dan Iptek 24
2.2.5 Sebuah Paradigma Ontologi Pendidikan 26
BAB III KESIMPULAN 31
3.1 KESIMPULAN 31
3.2 SARAN 32
DAFTAR PUSTAKA 34
DAFTAR KELOMPOK 35
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.1.1. Ontology
Ontology adalah bidang filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada, menurut tata hubungan sistematika berdasarkan hukum sebab-akibat. Yaitu ada manusia, ada alam, dan ada causa prima dalam suatu hubungan menyeluruh, teratur, dan tertib dalam keharmonisan. Jadi, aspek ontology, segala sesuatu yang ada ini berada dalam tatanan hubungan estetis yang diliputi dengan warna nilai keindahan.
Pendidikan, ditinjau dari sisi ontology, berarti persoalan tentang hakikat keberadaan pendidikan. Fakta menunjukan bahwa pendidikan selalu berada dalam hubungannya denagn eksistensi kehidupan manusia. Sedangkan kehidupan manusia ditentukan asal-mula dan tujuannya. Oleh sebab itu, dapat dipahami bahwa ontology pendidikan berarti pendidikan dalam hubungannya dengan asal mula, eksistensi, dan tujuan kehidupan manusia. Jadi ontology pendidikan sepenuhnya mutlak berakar dari dan keberadaan manusia.

1.1.2. Perkembangan kecerdasan spiritual (SQ)
Setelah Goleman dengan konsep “Emotional Quotient (EQ)” nya mengguncang tradisi pemikiran lama yang menempatkan kecerdasan intelektual atau rasional sebagai satu-satunya kecerdasan yang menentukan keberhasilan hidup seseorang, baru-baru ini muncul pula suatu istilah yang dikenal dengan “Spiritual Quotient (SQ)”.
Spiritual Quotient atau kecerdasan spiritual (SQ) merupakan temuan mutakhir secara ilmiah yang pertama kali digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall, masing-masing dari Harvard University dan Oxford University melalui serangkaian penelitian yang sangat komprehensif. Dalam bukunya yang sangat terkenal SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence, Danah Zohar dan Ian Marshall menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kecerdasan spiritual adalah “kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas lagi dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain” (Zohar dan Marshall, 2001).
Lebih jauh Zohar dan Marshall menjelaskan bahwa SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi. IQ dan EQ, terpisah atau bersama-sama, tidak cukup untuk menjelaskan keseluruhan kompleksitas kecerdasan manusia dan juga kekayaan jiwa serta imajinasinya. Menurut Yadi Purwanto (2003), ada dua hal yang dianggap penting oleh Zohar dan Marshall yaitu aspek nilai dan makna sebagai unsur penting dari SQ. Hal ini terlihat dari beberapa ungkapan Zohar dan Marshall sendiri diantaranya:
• SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai
• SQ adalah kecerdasan untuk menempatkan perilaku hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.
• SQ adalah kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.
• SQ adalah kecerdasan yang tidak hanya untuk mengetahui nila-nilai yang ada, tetapi juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru.

1.2. Identifikasi, batasan dan rumusan masalah
Secara ontologis manusia berada dalam tiga tingkatan hakikat yaitu, pada tingkat abstrak (abstrack essence), tingkat potensi (potential essence), dan tingkat kongkret (concrete essence). Karena pendidikan berlangsung di dalam diri dan keberadaan manusia, ontology pendidikan pun dapat dibahas melalui tingkatan seperti itu.
Tanpa manusia, pendidikan tak pernah ada. Tetapi bagaimana halnya dengan keberadaan manusia tanpa pendidikan? Mungkinkah itu?
Dari argumentasi diatas, jelaslah bahwa adanya pendidikan begitu sentral di dalam eksistensi kehidupan manusia. Dapat diasumsikan secara kuat bahwa adanya pendidikan dapat memberikan pengetahuan yang cerah tentang asal-mula manusia dan tujuan kehidupan manusia. Hal ini berarti pendidikan juga memberikan pedoman yang kuat terhadap arah perjalanan hidup manusia. Jadi, secara menyeluruh dapat dinilai bahwa pendidikan memberikan nilai keindahan terhadap realitas hidup dan kehidupan manusia. Dengan nilai keindahan, kehidupan seharusnya menjadi teratur, tentram, dan damai.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah persoalan khas manusia. Secara keilmuan, subjek pendidikan adalah manusia dan objek pendidikan adalah manusia juga. Hal ini berarti “manusia melakukan pendidikan terhadap dirinya sendiri”. Apakah yang harus dilakukannya? Karena pendidikan adalah masalah manusia, persoalan pokoknya adalah ‘menumbuh-kembangkan’ potensi yang terkandung di dalam diri manusia secara berkelanjutan. Jadi persoalannya adalah potensi-potensi manusia mana yang menjadi objek pendidikan? Bagaimana manusia menumbuhkembangkan potensinya? Sasaran apa yang akan dicapai?
Dibawah ini akan dibahas tentang, pertama, hubungan antara pendidikan dan manusia, kedua tentang hubungan pendidikan dan filsafat. Ketiga, tentang hubungan pendidikan dan sejarah, yang dilanjutkan dengan hubungan pendidikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keempat, tingkatan-tingkatan ontology pendidikan.
1.3. Tujuan
Adapun tujuan dari ontology pendidikan (peningkatan kecerdasan spiritual) ini diantaranya yaitu:
1. Untuk mengetahui keniscayaan pendidikan dalam setiap sisi kehidupan manusia
2. Untuk mendapatkan pengetahuan yang jelas bahwa antara filsafat dan pendidikan keduanya menuju pada satu titik puncak, yaitu ‘kearifan’ hidup.
3. Untuk mendapatkan pengetahuan bahwa pendidikan adalah system kegiatan menuju perubahan untuk kemajuan hidup
4. Untuk mendapatkan pengetahuan tentang hakikat keberadaan pendidikan dari tingkat abstrak sampai pada tingkat kongkret.
5. Agar seluruh potensi manusia, khususnya cipta, rasa dan karsa dapat dikembangkan dan kemudian bisa membuahkan nilai kebenaran, keindahan, dan kebaikan.
1.4. Kegunaan
Adapun kegunaan dari makalah tentang ontology pengembangan kecerdasan spiritual yaitu sebagai pedoman untuk mendapatkan pengetahuan tentang sejauh mana keberadaan pendidikan dan hubungannya antara pendidikan dan manusia atau sebaliknya antara manusia dengan pendidikan.
1.5. Sistematika Penulisan
A. Bagian Pembuka
• Halaman Judul
• Kata Pengantar
• Daftar Isi
B. Bagian Isi
BAB I Pendahuluan
• Latar belakang
• Identifikasi, batasan dan rumusan masalah
• Tujuan
• Kegunaan
• Sistematika Penulisan
BAB II Pembahasan
Hakikat Manusia dan Permasalahan Pendidikan
• Hakikat Manusia
• Filosofi Kehidupan
• Manusia dan Problematika Pendidikan
Pendidikan dan Kehidupan Manusia
• Pendidikan dan Manusia
• Pendidikan dan filsafat
• Pendidikan dan Sejarah
• Pendidikan dan IPTEK
BAB III Kesimpulam dan Saran
• Kesimpulan
• Saran
C. Bagian Penunjang Penutup
• Referensi
• Nama Anggota Kelompok

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. HAKIKAT MANUSIA DAN PERSOALAN PENDIDIKAN
Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya bahwa subjek dan objek dari pendidikan adalah manusia, maka dalam pembahasanpun akan dibahas mengenai hubungan manusia dengan pendidikan dan hubungan pendidikan dengan kehidupan manusia.
2.1.1. HAKIKAT MANUSIA
Perilaku negatif sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan karena pengetahuan manusia belum terhubungkan secara kausalistik fungsional dengan realitas konkret fungsional dengan realitas konkret perilaku sehari-hari.Di dalam konteks pendidikan, manusia adalah makhluk yang selalu mencoba memerankan diri sebagai subjek dan objek.Manusia memposisikan dan memerankan diri di atas segala-galanya dank arena itu memiliki keleluasaan untuk memanfaatkan potensi alam termasuk dirinya sendiri dan sesamanya.
Hakikat manusia, yaitu :

1. Manusia sebagai makhluk berpengetahuan.
Manusia memiliki 3 potensi, yaitu cipta, rasa, dan karsa. Dengan ketiga potensi ini, manusia selalu terdorong untuk mendapatkan nilai-nilai kebenaran, keindahan, dan kebaikan yang terkandung di dalam segala sesuatu yang ada ini.Ketiga jenis nilai ini menjadi landasan dasar untuk mendirikan filsafat hidup, menentukan pedoman hidup, dan mengatur sikap dan perilaku hidup agar senantiasa terarah ke pencapaian tujuan hidup.
Filsafat hidup mengandung pengetahuan yang bernilai universal meliputi masalah-masalah tentang asal kehidupan, tujuan dan eksistensi kehidupan.
Pedoman hidup adalah pengetahuan umum yang khusus dijadikan suatu prinsip yang dihinggap benar karena sesuai dengan hakikat asal mula dan berguna bagi pencapaian tujuan kehidupan. Sikap dan perilaku hidup adalah pengetahuan khusus konkret berupa setiap langkah kehidupan yang ditentukan sepenuhnya oleh pedoman hidup.
2. Manusia sebagai makhluk berpendidikan
Dalam perilaku sehari-hari pengetahuan menjadi moral, dan kemudian menjadi etika kehidupan sehingga hakikat perilaku adalah berupa kecenderungan mempertanggung jawabkan kelangsungan dan perkembangan hidup dan kehidupan ini. Tanggung jawabnya itu berupa nilai keadilan. Adil terhadap diri sendiri,terhadap manusia dan lebih-lebih terhadap alam dimana hidup dan kehidupan ini berlangsung.
3. Manusia sebagai makhluk berkebudayaan
Kebudayaan material maupun spiritual adalah upaya manusia untuk mengubah dan membangun keterhubungan berimbang baik secara horizontal maupun secara vertical. Secara horizontal dengan sikap terdidiknya manusia mendukung kodrat untuk senantiasa terdorong membangun hubungan dengan diri sendiri dan sesamanya secara berkeadilan.
2.1.2. FILOSOFI KEHIDUPAN
Secara filosofis persoalan hidup dapat dikategorikan dalam tiga titik. Pertama, titik ‘asal mula’ yang ditandai denga peristiwa kelahiran. Kedua, titik ‘tujuan’ yang ditandai dengan peristiwa kematian. Ketiga, titik ‘eksistensi’ perupa garis lurus perjalanan kehidupan manusia yang menghubungkan antara kedua titik terdahulu.
Titik asal mula dan tujuan kehidupan ada dua yaitu; di dunia metafisis yang tunggal adanya bersifat universal dan absolut tidak mengalami perubahan dan di dunia fisis yang relatif adanya yang merupakan ruang lingkup pengalaman dan pemikiran manusia. Karena sifat fisisnya dunia eksistensi sering diposisikan saling bertentangan dengan dunia metafisis. Padahal sebenarnya dunia fisis merupakan perwujudan dari dunia metafisis jadi keduanya merupakan suatu keutuhan yang menyeluruh dan tidak dapat dipisahkan.
Hakikat asal mula kehidupan itu hanya ada satu, bersifat universal berada di dunia metafisis, karena itu bersifat absolud tidak mengalami perubahan dan sebagai sumber dari segala sumber yang ada. Hakikat tujuan kehidupan hanya ada satu, bersifat universal, dan .berada di dunia metafisis dan merupakan tujuan akhir dari segala sesuatu yang ada didunia ini. Akal pikiran manusia dapat memastikan bahwa kehidupan ini berawal dari prima kausa (Tuhan) dan akhirnya kembali kepada tuhan pula.
2.1.3. MANUSIA DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN
Atas posisi dan fungsinya, manusia berkewajiban kodrati untuk mempertahankan, mengatur dan mengembangkan kehidupan dirinya baik sebagai individu, sebagai anggota masyarakat maupun sebagai makhluk dalam eksistensi alam limgkungan yang harmonis. Menurut pertimbangan filsafat penyebab dominan kenapa masyarakat bisa terjerumus kedalam eksistensi kehidupan karena kualitas pendidikan yang rendah. Kualitas individu sangat ditentukan oleh kualitas tujuan hidupnya. Kualitas tujuan hidup itu ditentukan oleh kualitas kehidupan yang dikembangkannya. Secara filosofi pendidikan seharusnya mengembangkan potensi spiritual, intelektual dan moral menurut hubungan sebab akibat.
Ada pergeseran orientasi, watak, sikap, dan perilaku kehidupan yang amat memprihatinkan, yaitu dari kebutuhan menjadi keinginan, dimana telah menjadi kejelasan bahwa sifat kebutuhan itu terbatas sedangkan keinginan bersifat tak terbatas.
Problematika Pendidikan, Komersialisasi pendidikan yang terjadi berbanding lurus dengan krisis moral yang disebabkan kerena adanya pendangkalan orientasi pendidikan sebagai akibat dari system ekonomi pasar dunia yang bersifat material kapitalistik. Pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan secara sistematik adalah keluarga, sekolah, masyarakat dan Negara serta pada gilirannya adalah peserta didik itu sendiri.
Pendidikan sekolah sangat kurang tercukupi fasilitas dan potensi sumber daya manusianya sehingga terjadi pergeseran nilai kualitatif menjadi semakin kuantitatif. Hal ini akan membuat pluralitas kehidupan social menjadi imitative, dan kemudian hanya dapat menghasilkan kebangkrutan kehidupan social di segala bidang. Paradigma pendidikan dapat dibangun berdasarkan wawasan konstekstual yang sedang berjalan dalam kehidupan masyarakat.
2.2. PENDIDIKAN DAN KEHIDUPAN MANUSIA
2.2.1. PENDIDIKAN DAN MANUSIA
Manusia siapapun, sebagai apa pun, di mana pun dan kapan pun berada, berhak atas pendidikan. Manusia sebagai objek pendidikan adalah manusia dalam perwujudannya sebagai individu yang menjadi bagian integral dari masyarakatnya. Dua sisi perwujudan ini di pandang penting dan perlu untuk diproses dalam system pendidikan, agar dikemudian hari manusia dapat menemukan jati dirinya sebagai manusia. Berulang kali dinyatakan bahwa tanpa pendidikan, manusia tidak mungkin bias menjelaskan tugas dan kewajibannya dalam kehidupan, sesuai dengan hakikat asal mula dan hakikat tujuan hidupnya. Sehubungna dengan hal itu, pendidikan secara khusus difungsikan untuk menumbuhkembangkan segara potensi kodrat (bawaan) yang ada dalam diri manusia.
Potensi kejiwaan cipta, rasa, dan karsa mutlak perlu mendapatkan bimbingan berkelanjutan, karena ketiganya adalah potensi kreatif dan dinamis khas manusia. Adapun sasaran pembimbingan dalam system kegiatan pendidikan adalah menumbuhkan kesadaran atas eksistensi kehidupannya sebagai manusia yang bersal-mula dan bertujuan. Di dalam system kegiatan pendidikan berkelanjutan, kesadaran tersebut menjadi dinamisuntuk kemudian bias membuahkan ‘kecerdasan spiritual’. Dalam dinamikanya, kecerdasan spiritual bias membuahkan penghayatan nilai keindahan universal, di mana keindahan universal adalah sublimasi (sublimity) dari tata hubungan segala yang ada dalam harmonisasi, ketertiban, dan keindahan menyeluruh, menurut sifat hakikat asal-mula dan tujuan keberadaannya. Tata hubungan tersebut meliputi hubungan harmonis menyeluruh secara kausalitas antara ada manusia, ada alam, dan ada causa prima. Dari system tata hubungan demikian, kemudian bisa melahirkan nilai kejujuran dalam berprinsip, selanjutnya menjadi dasar dalam bersikap secara benar dan berprilaku secara adil.
Cipta, rasa, dan karsa manusia perlu ditumbuhkembangkan secara seimbang dan terpadu, agar spirit manusia semakin cerdas. Seorang manusia yang eksis dalam kecerdasan spiritual cenderung berwawasan luas dan mendalam. Wawasan demikian menembusi tembok batas ‘positivisme radikal’ yang sementara ini membelenggu kehidupan manusia dalam kepicikan, kebodohan dan kesombongan. Kecerdasan spiritual membuka wawasan memasuki dunia transenden yang tunggal dan bersifat absolute, yaitu dunia yang berada di luar jangkauan pikiran dan pengalaman manusia. Selanjutnya kecerdasan spiritual perlu dijadikan fondasi eksistensi kehidupan manusia agar berlangsung dalam dinamika perkembangan secara konstan berdasarkan kesadaran mendalam tentang sifat hakikat asal-mula dan tujuan kehidupannya.
Bagaimana caranya pendidikan diselenggarakan agar bisa mencapai sasaran kecerdasan spiritual itu? Manusia selalu hidup dalam wujud konkret sebagai individu yang selalu berada dari dan didalam keluarga. Di dalam keluarga itulah setiap individu pertama kali terlibat dalam system kegiatan pendidikan. Di zaman modern, pendidikan tidak cukup diselenggarakan di lingkungan keluarga, tetepi harus dilanjutkan di pendidikan sekolah . kemudian dilanjutkan di dalam kehidupan masyarakat luas di berbagai bidang kegiatan kehidupan social. Oleh sebab itu, berikut akan dibahas peranan keluarga,sekolah, dan masyarakat dalam menyelenggarakan system kegiatan pendidikan.
Peranan keluarga. sistem pendidikan di dalam keluarga sangat bergantung kepada kecenderungan yang kuat dari orang tua terhadap dunia pendidikan. Dalam hal ini, tingkat dan kualitas pendidikan orang tua menjadi penting dan mementukan. Kecenderungan kuat dan kualitas pendidikan orang tua tidak harus bergantung pada tinggi rendahnya pendidikan formal (sekolah) yang telah diraih, tetapi bergantung pada kualitas motivasinya. Idealnya memang tingkat pendidikan sekolah berbanding lurus dengan kualitasnya. Tingkat kualitas pendidikan orangtua dapat dilihat pada orientasi (filosofi) kehidupan keluarga, dan bagaimana konsekuensi mereka dalam menjalankan filosofi itu. Kedua titik itu harus saling bersesuaian.
Secara ontologis, filosofi kehidupan seharusnya berwarna khas kesadaran adanya nilai keindahan universal. Dimana nilai keindahan universal itu merupakan sublimasi dari ttatanan kehidupan yang tertib, teratur, dan harmonismenurut kodrat asal-mula dan tujuannya. Orangtua wajib secara kodrati menumbuhkembangkan kesadaran nilai keindahan universal itu. Dengan kata lain, orangtua harus mendidik dirinya terlebih dahulu dengan menanamkan nilai keindahan universal itu. Berdasarkan nilai keindahan universal tersebut, kehidupan keluarga dibangun untuk selanjutnya dilangsungkan. Kondisi itu mengandung arti bahwa potensi ‘kecerdasan spiritual’ telah ditanamkan sebagai landasan dan wawasan kehidupan keluarga.
Potensi kecerdasan spiritual akan terus tumbuh berkembang apabila terus dirawat. Perawatannya terletak pada seberapa jauh nilai tersebut mewarnai kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, nilai keindahan spiritual perlu dijabarkan ke dalam sehidupan sehari-hari oleh orang tua. Hakikat asal-mula dan tujuan kehidupan harus menjiwai, dan selanjutnya menjadi spirit setiap kegiatan kehidupan keluarga. tiga moral spiritual yaitu, syukur, sabar dan ikhlas.
Spirit bersyukur terbentuk atas kesadaran tentang adanya asal-mula. Spirit ini jika dirawat dan tertanam dalam kegiatan sehari-hari bisa menumbuhkan ‘keyakinan’ adanya dunia spiritual; dunia transcendental yang merupakan asal-mula. Adanya anak berasal dari orangtua, orangtua berasal dari kakek-nenek, begitu seterusnya sampai diyakini ada causa prima sebagai asal-mula dari ‘sari alam’ yang bersifat spiritual; berasal dari dunia transcendental.
Spirit bersabar terbentuk dari fakta kesadaran bahwa sepanjang kehidupan ini sarat dengan persoalan yang sulit pecahkan. Dalam setiap kegiatan sehari-hari, kehidupan keluarga selalu diliputi oleh banyak persoalan yang harus dipecahkan. Untuk itu, mutlak diperlukan keahlian dan keterampilan.
Jika watak kesabaran telah tertanam, nilai kejujuran bisa tumbuh berkembang mewarnai kehidupan keluarga. keluarga yang demikian memiliki wawasan luas, karena itu cenderung terhindar dari perbuatan memaksakan kehendak untuk segera mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Keluarga yang hidup dengan watak kesabaran, dinamika kehidupannya cenderung tenang, sejuk dan damai. Dinamika kehidupan demikian secara lurus dan tenag membawa kehidupan keluarga menuju tujuannya. Watak kesabarab menjiwai eksistensi kehidupan.
Spirit berikhlas terbentuk dari kesadaran bahwa seluruh tahapan kehidupan ini dikehendaki atau tidak pasti berakhir. Spirit bersyukur yang menjelma menjadi watak kesabaran yang dilakukan secara terus-menerus sepanjang eksistensi kehidupan, kemudian akan menjadi spirit berikhlas. Jika spirit ikhlas telah tertanam di dalam jiwa yang dalam, seseorang cenderung menerima konsekuensi apa pun atas segala usahanya.
Dengan demikian, keluarga bertanggung jawab terhadap system kegiatan pendidikan untuk menumbuhkembangkan kecerdasan spiritual berupa kesadaran tentang asal-mula, tujuan, dan eksistensi kehidupan dalam tata hubungan kausalistik. Kesadaran demikian, kemudian akan membuahkan nilai keindahan dan watak atau kepribadian jujur.
Peranan pendidikan sekolah. Tujuan utama dari system kegiatan pendidikan yang berlangsung di dalam institusi persekolahan adalah mengembangkan dan membentuk potensi intelektual atau pikiran, menjadi cerdas. Secara terprogram dan koordinatif, materi pendidikan dipersiapkan untuk dilaksanakan secara metodis, sistematis, intensif, efektif, dan efisien menurut ruang dan waktu yang telah ditentukan. Jadi penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan menurut metode system yang jelas dan konkret.
Pencerdasan pikiran tersebut dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan mengenai reading (membaca) yang sasarannya bukan hanya mengembangkan kemampuan membaca tulisan, tetapi lebih dari itu, yakni kemampuan membaca fakta kehidupanyang sedang berjalan. Writing, sasarannya adalah kemampuan mengungkapkan sesuatu hal yang telah dibaca untuk kemudian disosialisasikan dalam bentuk tulisan, dan arithmatics, sasaran pokoknya adalah kemampuan menghitung dan membuat perhitungan agar setiap langkah kehidupan dapat menghasilkan kepastian. Untuk itu materi pendidikan diorganisasi dalam bentuk kurikulum, yang terkandung isinya meliputi beberapa masalah tentang kealaman, social kemanusiaan, dan moral keagamaan menurut perbandingan yang disesuaikan dengan kebutuhan.
Materi pendidikan tersebut selanjutnya dipelajari dengan target kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Dengan target ini, berarti system kegiatan pendidikan sekolah bertanggung jawab terhadap pertumbuhan dan perkembangan spirit nilai kebenaran yang dapat difungsikan sebagai dasar pencerdasan intelektual.
Peranan masyarakat. Yang dimaksud masyarakat meliputi semua lembaga social apakahyang tertutup (formal) maupun yang terbuka (informal); apakah yang bergerak di bidang social – ekonomi, social-politik, social-justisi, social-edukasi, social sekuriti, social-helti, social-sport, social turisme atau social-religius, dan sebagainya. Semua pihak tersebut bertanggung jawab terhadap pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan spiritual, untuk kemudian dapat membuahkan nilai keadilan sebagai spirit kelangsungan hidup bermasyarakat.
Tanggung jawab masyarakat terhadap penanaman kecerdasan spiritual di setiap lini kegiatan social bisa menumbuhkan kesadaran bahwa hidup bersama mutlak dilakukan untuk mencapai tujuan kehidupan ini. Pertumbuhan kesadaran hidup bersama kemudian bisa membuahkan nilai keadilan social. Oleh sebab itu, kehidupan masyarakat selanjutnya dijiwai dengan keadilan politik, ekonomi, hukum, pendidikan dan sebagainya.
Jadi, secara ontologis, pencerdasan spiritual sebagai hakikat pendidikan menjadi jelas dalam hubungannya dengan manusia, khususnya dalam usaha membangun berbagai jenis system pendidikan.

2.2.2 PENDIDIKAN DAN FILSAFAT
Berbeda dengan makhluk lainnya, manusia lahir dengan potensi kodratnya berupa cipta, rasa dan karsa. Cipta adalah kemampuan spiritual, yang secara khusus mempersoalkan nilai ‘kebenaran’. Rasa adalah kemampuan spiritual, yang secara khusus mempersoalkan nilai ‘keindahan’. Sedangkan karsa adalah kemampuan spiritual, yang secara khusus mempersoalkan nilai ‘kebaikan’.
Dengan ketiga potensinya itu, manusia selalu terdorong untuk ingin tahu dan bahkan mendapatkan nilai-nilai kebenaran, keindahan dan kebaikan yang terkandung di dalam segala sesuatu yang ada (realitas). Oleh karena itu, manusi disebut juga makhluk berpengetahuan.
Sejak lahir, seorang manusia sudah langsung terlibat di dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Dia dirawat, dijaga, dan dididik oleh orang tua, keluarga, dan masyarakatnya menuju tingkat kedewasaan dan kematangan, sampai kemudian terbentuk potensi kemandirian dalam mengelola kelangsungan hidupnya.
Secara langsung atau tidak, setiap kegiatan hidup manusia selalu mengandung arti dan fungsi pendidikan. Dengan pendidikan, manusia melakukan kegiatan makan, minum, bekerja, beristirahat, bermasyarakat, beragama, dan sebagainya.
Jadi, antara manusia dan pendidikan terjalin hubungan kausalitas. Karena manusia, pendidikan mutlak ada; dan karena pendidikan, manusia semakin menjadi diri sendiri sebagai manusia yang manusiawi. Oleh karena itu manusia disebut juga dengan makhluk berpendidikan.
Dengan kegiatan pendidikan dan pembelajaran secara terus-menerus, manusia mendapatkan ilmu pengetahuan yang sarat dengan nilai kebenaran baik yang universal-abstrak, teoretis, maupun yang praktis. Nilai kebenaran ini selanjutnya mendorong terbentuknya sikap perilaku arif dan berkeadilan. Lebih lanjut, dengan sikap dan perilaku tersebut, manusia membangun kebudayaan dan peradabannya. Kebudayaan, baik yang material ataupun yang spiritual, adalah upaya manusia untuk mengubah dan membangun keterhubungan berimbang baik secara horizontal maupun vertikal. Dalam pengertian ini, manusia disebut sebagai makhluk berkebudayaan.
Seseorang disebut berkebudayaan jika senantiasa mampu melakukan pembatasan diri dan menjalani kehidupannya menurut asas ‘kecukupan’ (basic needs), bukan malah menuruti keinginan.
Akhir-akhir ini kerap terjadi tindakan komersialisasi pendidikan. Komersialisasi pendidikan berbanding lurus dengan krisis moral. Hal ini terjadi karena ada pendangkalan orientasi kependidikan sebagai akibat dari sistem ekonomi pasar dunia yang material-kapitalistik. Watak perekonomian material-kapitalistik ini melekat mulai dari titik kebijakan hingga pada praktik penyelenggaraan pendidikan. Penjabaran tujuan pendidikan dan materi pendidikan ke dalam kurikulum, di dalam kegiatan pendidikan sekolah, misalnya, ternyata sebatas slogan verbal belaka.
Pihak-pihak yang bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan pendidikan sangat kurang memperhatikan penekanan pada persoalan metodologo kependidikan. Sementara itu, justru metode pengajaran terlalu mendapatkan penekanan, sehingga upaya penumbuhan bakat tergantikan sepenuhnya dengan kemampuan reseptik-memoris (hafalan). Wawasan pendidikan yang seharusnya berorientasi pada proses (process oriented), berubah total menjadi “result oriented”. Akibatnya, bersamaan dengan itu, kreatifitas individual menjadi tumpul dan yang berkembang adalah moral peniruan (the morality of imitation).
2.2.3. PENDIDIKAN DAN SEJARAH
Ada satu lagi persoalan khas manusia, yakni sejarah. Maksudnya , sejarah adalah suatu rentetan kejadian yang berlangsung di dalam kehidupan masyarakat manusia. Rentetan kejadian tersebut tidak terjadi secara kebetulan, namun berlangsung dalam kesengajaan. Cirri khas objek sejarah rentetan kejadian yang selalu bergerak menuju ke perkembangan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Jadi, sejarah bias dikatakan sebagai suatu system rentetan kejadian yang bersumber dari kesadaran , dengan onjek khusus yaitu kesadaran tentang perlunya perubahan-perubahan demi perkembangan dan kemajuan bagi kehidupan masyarakat manusia.
Peristiwa sejarah adalahperistiwa yang terhadi sepenuhnya atas kesengajaan, karena itu selalu berlangsung menurut suatu perencanaan. Jadi, sejarah selalu bersifat rasional dan empiric. Oleh karena itu , sejarah adalah persoalan khas manusia. Sejak keberadaannya, manusia adalah satu-satunya makhluk yang menciptakan sejarahnya. Hal ini terbukti dengan adanya erunahan yang dinuat secara sistematik dari zaman ke zaman. Dengan sejarahnya , manusia semakin sadar bahwa dirinya adalah makhluk yang mampu mengadakan perubahan . dengan sejarahnya pula, manusia berusaha mengubah dirinya untuk semakin menjadikan dirinya sebagai manusia sesuai kodratnya. Jadi, jelaslah bahwa sejarah berisi tentang segala macam peristiwa yang secara dnamis-kausalistis berakumulasi menuju ke waktu mendatang. Jadi , sejarah bersifat futuristic (history is the matter of futurity).
Untuk itu , nerdasarkan sejarahnya , manusia selalu mengubah dan mengembangkan system pendidikan sesuai dengantuntutan zaman. Sejarah mengideakan masa mendatang yang lebih baik dan maju. Sementara itu, pendidikan menindaklanjuti dengan mengubah dan mengembangkan system pembelajaran untuk mendapatkan keahlian dan keterampilan yang relevan dengan kehidupan yang diidekan sejarah itu.
Oleh sebab itu, dalam kaitannya dengan sejarah, pendidikan adalah suatu system bimbingan pemanusiaan untuk masa mendatang . artinya, pendidikan dapat dikatakan sebagai system peristiwa ‘penyejarahan manusia. Pendidikan membuat manusia bisa menyatu dengan sejarahnya, mengubah dan mengembangkan dirinya secara terus menerus sehingga menjadi manusia yang semakin bernilai kemanusiaan. Dengan sejarahnya, manusia memperbaiki pendidikannya. Dengan sejarahnya pula, manusia mengubah dan mengembangkan pendidikan untuk melangsungkan eksistensinya dalam system dialektik-kausalistik menuju masa depan kehidupan yang baru dan lebih baik, lebih berbudaya dan berkeadilan.
2.2.4 PENDIDIKAN DAN IPTEK
Keberdaaan Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan akibat langsung dari eksistensi manusia yang kemudian membentuk historisitas kependidikan sejak lahir sampai mati. Jadi, jika manusia tidak eksis dalam rentetan panjang kependidikan, sesungguhnya ilmu pengetahuan dan teknologi tidak mungkin ada.
Ilmu pengetahun dan teknologi adalah suatu sistem intelektual pemberdayaan manusia yang dihasilkan dari sistem kegiatan pendidikan. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, segala peubahan yang direncanakan oleh dapt dikerjakan. Fakta membuktikan bahwa teknologi mampu memperaktikan teori ilmu dalam sistem perindustrian. Dengan perindustrian, dinamika kehidupan manusia mengalami perubahan yang begitu cepat. Dengan teknologi dan perindustrian, kini seolah-olah manusia bisa mealakukan semua hal sesuai dengan yang dikehendaki. Ada yang berpendapat bahwa dengan teknologi dan industri, manusia mampu membuktikan bahwa dirinya adalah mahluk ciptaan Tuhan yang paling istimewa.
Dalam hubungannya dengan pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi mendukung tanggung jawab untuk membudyakan eksistensi kehidupan manusia. Artinya, dengan peraltan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia semakin lebih berpeluang untuk menciptakan perubahan-perubahan yang bermamfaat bagi kehidupan yang lebih berkembang dan maju. Dengan teknologi, pendidikan mampu membuat perubahan; dan dengan pendidikan, teknologi diharapkan mampu membuat kehidupan semakin berkembang maju. Berkembang dan maju dalam arti bernila kultural manusiawi, sehingga segala kebutuhan hidup dapat lebih mudah dicukupi dan dapat dimamfaatan secara adil dan merata. Dengan pendidikan teknologi, jalan menuju kesejahteraan umum semakin terbuka.

2.2.5 SEBUAH PARADIGMA ONTOLOGI PENDIDIKAN
Nilai Ontologik
Ontologik adalah suatu filsafat umum, yang sering disebut sebagai “ metefisika umum” (generale metafisics). Dengan demikian, ontologik ini dapat dipahami sebagai “pohon” filsafat, atau filsafat itu sendiri.
Sebagai pohon filsafat, ontologik atau metafisika umum mempersoalkan apa yang ada dibalik “yang ada” (onto berarti yang ada ) atau hakikat yang ada. Yaitu, meliputi pertanyaan tentang hakikat tuhan sebagai sang pencipta alam, baik secara terpisah-pisah maupun secara terkait di dalam suatu kesatuan.
Cakupan ilmu pengetahuan adalah ilmu pengetahuan manusia dan masyarakatnya, ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan ketuhanan. Oleh karena itu, filsafat dan ilmu pengetahuan mempunyai obyak penyelidikan yang sama, yaitu sama-sama menyelidiki manusia, alam, dan Tuhan Sang Pencipta. Adapun perbedaannya terletak pada kualitas sasaran yang dituju. Kalau filsafat kualitas sasarannya bersifat metafisik (hakikat) secara utuh menyeluruh, sedangkan ilmu pengetahuan hanya mempelajari jenis, bentuk, sifat dan susunan fisik menurut bagian-bagian tertentu secara terpisah-pisah.
Terhadap obyek manusia misalnya, filsafat memandang dan menyelidiki manusia secara utuh menyeluruh. Artinya tidak membatasi segi-segi tertentu fisik saja, melainkan menembus sampai kepada apa yang ada di baliknya. Tetapi, ilmu pengetahuan tentang manusia (antropologi), penyelidikannya berhenti pada sifat-sifat fisis menurut jenis, bentuk dan susunan obyek manusia itu. Karena segi fisik manusai itu actual (menggejala) dalam berbagai wujud dan keadaan, maka antripologi cenderung mempunyai berbagai jenis cabang.
Kecenderungan pluralitas ilmu pengetahuan tersebut. Jika terlepas dari ikatan filsafat, niscaya akan terdai saling pemisah yang tajam antara satu dengan yang lain. Akan tetapi di dalam ikatan flsafat justru pluralitas ilmu pengetahuan itu menggelarkan eksistensinya yang semakin lengpan dan fungsional. Artinya, setiap cabang ilmu pengetahuan saling berkolerasi secara kritis, kreatif dan efektif demi kukuhnya ilmu pengetahuan induk. Tetapi, jika masing-masing cabang tidak terkait hubungan seperti itu, niscaya akan menghancurkan ilmu pengetahuan ilmi pengetahuan induknya.
Secara ontologism, manusia berada dalam tiga tingkatan hakikat, yaitu pada tingkat abstrak (abstract essence), tingkat potensi (potential essence), dan tingkat konkret (concrete essence). Karena pendidikan mutlak berlangsung di dalam diri dan keberadaan manusia, ontology pendidikan pun dapat dibahas menurut tingkat-tingkat keberadaan seperti itu.
Esensi abstrak pendidikan. Maksud ungkapan ini adalah hakikat keberadaan pendidikan pada tingkat abstrak. Pada tingkat ini, pendidikan bernilai universal. Artinya mutlak adanya dan berlaku bagi manusia siapa pun, yang ada kapan dan di mana pun juga. Adapun nilai universal pendidikan dapat dilihat pada orientasi filosofis pendidikan itu sendiri, yaitu suatu system bimbingan dengan sasaran pemanusiaan manusia. Pendidikan adalah suatu system bimbingan yang berkesinambungan untuk menumbuhkembangkan potensi aatau bakat kodrat manusia. Setiap kelahiran manusia, wajib dilibatkan dan melibatkan diri secara terus-menerus dalam kegiatan pendidikan agar secara bertahap timbuh dan berkembang untuk kemudian menjadi “manusia yang manusiawi”.
Maksud istilah manusia yang manusiawi adalah manusia yang dengan potensi akalnya mendapat bimbingan di dalam rentetan system pendidikan, untuk kemudian tumbuh kesadaran terhadap asal-mula, eksistensi, dan tujuan hidupnya. Pada tingkat hakikat abstrak, pendidikan cenderung menumbuhkembangkan ‘kecerdasan spiritual’. Yaitu, kemampuan untuk menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan ini berasal-mula dan bertujuan. Dengan kecerdasan spiritual, manusia selalu terdorong untuk mengembangkan spirit kehidupan rendah hati, penuh kearifan dan kejujuran.
Esensi potensial pendidikan. Pada tingkat keberadaan ini, pendidikan adalah suatu daya yang mampu membuat manusia berada di dalam kepribadiaannya sebagai manusia, bukan mahkluk lainnya. Yaitu, sebagai mahkluk kreatif yang selalu mencipta segalam macam jenis kerangka dan model perubahan yang berguna bagi kelangsungan dari perkembangan hidupnya. Pada tingkakt hakikat potensi ini, pendidikan cenderung menumbuhkembangkan ‘kecerdasan inteligensi’ agar terbentuk kepribadian yang kreatif. Yaitu, dengan secara teru-menurus meningkatkan latiahn berpikir dan berbuat sesuatu.
Esensi konkret pendidikan. Pada tingkat ini, pendidikan terkait secara langsung dengan manusia individual. Dalam hal ini, pendididkan adalah daya yang mampu membuat setiap manusia individu berkesadaran utuh terhadap hakikat keberadaannya berdas pada nilai asal-mula dan tujuan kehidupannya (cerdas spiritualnya). Berdasarkan kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual itu, hakikat konkret pendidikan menekankan pada ‘kecerdasan emosional’. Yaitu, kemampuan individu dalam mengendalikan perilakunya, agar senantiasa sesuai dengan nilai asl-mula dan tujuan kehidupan. Perilaku demikian dapat dinilai bertanggung jawab terhadap tujuan kehidupan dan berorientasi pada nilai kebaiukan yang secara adil dapat diterima oleh semua pihak. Kecerdasan emosional adalah masalah perilaku yang terkendali menurut dasar nilai kebaikan. Sedangkan perilaku selalu berhubungan dengan manusia individual dalam bermasyarakat dan dalam berkehidupan pada umumnya.
Oleh sebab itu, semakin tampak jelas bahwa metode menumbuhkembangkan kecerdasan emosional itu berbanding lurus dengan bagaimana mendidik perilaku setiap individu untuk bertanggung jawab terhadap kehidupan social dan seluruh kehidupannya. Ada dua tahapan tanggung jawab individu terhadap masyarakatnya: pertama, kemauan dan kemampuan individu untuk mempertahankan kehidupannya berdasar pada asas kebutuhan primer. Kedua, kewajiban memberikan apa pun seoptimal mungkin, sesuai kemampuan, kepada masyarakat menurut asa keadilan social.
Dari pembahasan tentang pendidikan secara ontologism, dapat diperoleh pengetahuan tentang bagaimana menata hubungan dengan asl-mula dan tujuan kehidupan, serta hubungna pendidikan dengan filsafat, sejarah, dan iptek dalam eksitensi kehidupan. Pengetahuan ini berguna bagi landasan pencerdasan spiritual. Berikut ini adalah simpul-simpul kecerdasan spiritual:
1. Dari proses pendidikan dalam hubunganya dengan kehidupan manusia, terbentuklah kecerdasan spiritual berupa bersyukur atas kelahiran, spirit bersabar terhadap perjalanan hidup, dan spirit berikhlas dalam menghadapi kematian.
2. sebagai makhluk berpikir, manusia selalu merenungi hakikat asal-mulanya, tujuan hidup, dan eksistensi kehidupannya. Dari perenungannya itu, filsafat menganjurkan untuk mencintai kebijaksanaan dalam menjalani kehidupannya. Untuk hidup bijaksana, tidak afa jalan lain kecuali melalui proses pendidikan. Tegasnya, dalam konteks ini hidup bijaksana adalah berupa perilaku adil terhadap diri sendiri, pihak lain sesamanya, lingkungan alam, dan Sang Penciptanya.
3. sebagaimana manusia yang hidup dalam kesejarahan, pendidikan juga mendapat kontibusi histories. Sejarah selalu identik dengan proses kejadian ke masa depan menurut hokum kausalistik. Atas pengaruh sejarah, pendidikan juga selalu berlangsung dalam proses kea rah masa depan. Mendidik berarti menanam, memelihara, mengembangkan, dan memetik buah yang bias dinikmati di masa depan.

Salah satu proses pendidikan adalah menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Gengan iptek, industrialisasi dapat digelar dan menghasilkan perkembangan hidup yang sangat dinamis. Tetapi industrialisasi jangan sampai terlepas dari bingkai ruh kependidikan, agar industrialisasi tetap bermanfaat bagi kelangsungan dan perkembangan kehidupan.

BAB III

3.1 KESIMPULAN
Fakta menunjukkan bahwa pendidikan selalu berada dalam hubungannya dengan eksistensi kehidupan manusia. Sedangkan kehidupan manusia ditentukan asal-mula dan tujuannya. Oleh sebab itu, dapat dipahami bahwa ontology pendidikan berarti pendidikan dalam hubungannya dengan asal-mula, eksistensi, dan tujuan kehidupan manusia. Tanpa manusia, pendidikan tak pernah ada.
Tanpa pendidikan, manusia tidak mungkin bisa menjalankan tugas dan kewajibannya di dalam kehidupan, sesuai dengan hakikat asal-mula dan hakikat tujuan hidupnya. Sehubungan dengan hal itu, pendidikan secara khusus difungsikan untuk menumbuhkembangkan segala potensi kodrat (bawaan) yang ada dalam diri manusia. Potensi kejiwaan cipta, rasa dan karsa mutlak perlu mendapat bimbingan berkelanjutan, karena ketiganya adalah potensi kreatif dan dinamis khas manusia. Secara ontologis, manusia berada dalam tiga tingkatan hakikat, yaitu pada tingkat abstrak (abstract essence), tingkat potensi (potential essence) dan tingkat konkret (concrete essence).
Masyarakat terdidik dengan pilar dasar berupa kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosional mendorong terbentuknya suatu ide masyarakat berkeadilan dan beradab. Ide masyarakat terdidik ini difungsikan sebagai pilar yang menentukan bentuk dan model bangunannya. Oleh karena itu, seluruh bentuk dan model kegiatan hidup social harus berakar pada kecerdasan spiritual, intelektual dan emosional, untuk kemudian mengerucut pada titik tujuan yang bernilai spiritual pula.
Dari keterpaduan tiga kecerdasan itu, bentuk dan model bangunan masyarakat terdidik terdiri atas tiga lapis moralitas yang saling berhubungan secara klausal. Ketiganya itu merupakan unsure moral, yaitu moral bersyukur, bersabar dan berikhlas.
Kemudian secara akumulatif, berdasar pada moral syukur, sabar, dan ikhlas mendorong seluruh dinamika kehidupan bergerak menuju satu arah. Jenis dan bentuk perilaku baik individual maupun social berkembang sesuai dengan tingkat kualitas pengetahuan rasional dan empiric, dan mungkin juga tingkat kepercayaan keyakinan keagamaan yang ada di dalam masyarakat. Dari perkembangan jenis dan bentuk perilaku itu, terbentuklah pluralitas filosofi, sikap dan perilaku hidup.

3.2 SARAN
Berdasarkan hasil pembahasan yang dilaksanakan dalam makalah ini, penulis ingin mengemukakan beberapa saran seperti berikut :
1. Bahwa faktor pertama dan utama penyebab berbagai krisis kehidupan ini adalah “pendidkan”. Krisis pendidikan dan kebudayaan adalah pangkal dari krisis kehidupan di segala bidang karena pendidikan adalah mutlak bagi manusia untuk menentukan jati diri, model eksistensi dan kualitas tujuan kehidupannya. Oleh karena itu pedidikan harus dibarengi oleh kecerdasan spiritual agar pendidikan yang dijalani dan dilakukan tidak berseberangan dengan hakikat spiritual yang diyakini.
2. Sehubungan dengan kemerosotan ahklak yang terjadi pada saat ini khususnya dinegara kita, baik yang terjadi di berbagai kalangan seperti golongan birokrasi, pejabat, pembuat policy, dan kewarganegaraannya. Sangatlah penting dan perlu ditanamkannya mempunyai Kecerdasan Spiritual SQ, sebgai sikap yang menunjukkan pada pembentukan arah dan sikap serta jiwa yang penting yang tidak hanya mengedepankan Kecerdasaan Intelektual saja terutama pendidikan sebagai jalur pembentukan karakter untuk memanusiakan manusia.

DAFTAR PUSTAKA
1. SQ Kecerdasan Spiritual
Penulis : Darah Zohar dan Ian Marshall Juni 2007
Mizan (Penerbit)
2. Filsafat Ilmu
Penulis : Jujun S. Sluria Sumantri
Pustaka Sinar Harapan Jakarta, 2005
3. Filsafat Pendidikan
Penulis : Suparlan Suhartono, M. Ed, Ph. D.
Penerbit Ar-Ruzz Medior
Tahun April 2007
4. Psikologi Perkembangan
Penulis : Prof. DR. Hj. Samsunuwiyati Mar’at, S. Psi.
Penerbit : Rosda

DAFTAR KELOMPOK 1

1. SOLIHIN 08510106
2. ADE SOPIAN 08510123
3. ANATOMIE 08510104
4. INDRA HUDIONO 08510184
5. TONY PRAYOGI 08510135

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s